Profil
Profil perjalanan KGI Wilayah Yogyakarta
Perjalanan pengembangan TIK (teknologi Informasi dan komunakasi ) pendidikan pada komunitas guru di DIY.
Berawal dari perkembangan teknologi informasi yang mulai dikembangkan di lingkungan pendidikan mulai dari program SIM (system informasi management) yang pada saat itu hanya dikembangkan untuk kepentingan pendataan dan management, kemudian diarahkan lebih jauh dan lebih besar lagi untuk object pendidikan pada periode tahun 1998 -2000.

Direktorat pendidikan kejuruan mengawali pada tahun 2001 dengan bantuan imbal swadaya JARNET untuk sekolah-sekolah kejuruan di seluruh Indonesia, bantuan tersebut berupa dana hibah untuk pembangunan jaringan LAN dan Internet disekolah.
Di propinsi DIY bantuan JARNET diawali untuk 14 sekolah kejuruan yang diharapkan sebagai pionir untuk pengembangan TIK. Seiring dengan bantuan pendanaan untuk infrastruktu tsb, Direktorat sekolah kejuruan melalui P3G-nya mulai mengembangkan pelatihan SDM-nya untuk guru-guru yang akan mengampu program-program pendidikan berbasis TIK.
Dengan terbatasnya kemampuan pemerintah dalam pendistribusian bantuan JARNET serta terbatasnya penyerapan kemampuan teknis dilapangan ternyata tidak seimbang dengan kecepatan perkembangan teknologi itu sendiri, (secara empiris tingkat “keusangan“ teknologi informasi lebih cepat dari pada tingkat penyerapan teknologi ini) di masyarakat khususnya dunia pendidikan.
Ide memunculkan komunitas guru yang tergabung dalam kelompok guru “computer” menjadi awal dikembangkannya komunitas guru-guru ini di jogjakarta. Komunitas ini pada awalnya mulai dilirik oleh pemerintah pusat dengan diberikannya program pengembangan “Jaringan Informasi Sekolah” sebagai pendamping pelatihan bagi sekolah-sekolah penerima bantuan hibah JARNET. Selam dua tahun anggaran kelompok ini mendapat support dalam gerakannya terutama pada sekolah-sekolah kejuruan.
Seiring dengan berkembangnya teknologi pengajaran dan trend yang pada waktu itu adalah “internet goes to school” menjangkau pada semua jenjang pendidikan dasar dan menengah, maka pemerintah lebih mengkonsentrasikan pada kurikulum dan infrastruktur pendukungnya (pengadaan lab-lab computer), sehingga support untuk “kelompok-kelompok” komunitas guru-guru IT menjadi berkurang. Padahal pada saat itu (setelah 3 th sejak dikembangkannya komunitas guru IT ), semua jenjang pendidikan dasar sudah mulai mengembangkan teknologi informasi, semisal tingkat SLTP memunculkan program CIS (Computer In School) dan SLTA dengan program JIP (jarinagn Inovasi Pendidikan) dan banyak lagi melalui direktorat-direktorat yang ada pada dept pendidikan.
Praktis komunitas yang pada awalnya dikembangkan oleh direktorat sekolah kejuruam dalam program Jaringan Informasi Sekolah menjadi berhenti, koma, tewas dan tidak lagi ketahuan bentuknya … Hal ini terjadi pada sebagian besar daerah di seluruh Indonesia.
Di DIY jaringan informasi sekolah mengalami masa sulit tersebut, namun berkat kekompakan dan komitmen anggotanya, komunitas ini menjadi lebih “dewasa” dengan “keterpaksaan” kelompok ini berusaha untuk bertahan, dan beruntung pemerintah daerah (propinsi maupun kabupaten) dapat memberikan support dengan bentuk yang lain, di Dinas pendidikan Prop DIY melalui Bid Pend SMK bentuk pengembangan pendidikan berbasis ICT pernah 2 kali dilaksanakan (2004 - 2005) dengan melibatkan kelompok dan komunitas guru ini.
Seperti pelatihan-pelatihan berbasis TIK (teknologi informasi & komunikasi - terjemahan dari ICT) untuk “motornya” memanfaaatkan guru-guru yang tergabung dalam kelompok ini, bahkan beberapa instansi dari pusat juga ikut memberikan andil dalam “membesarkan” komunitas ini , seperti Balitbang diknas melalui programnya ACEN dan ALCOB. Hingga tahun ini kegiatan-kegiatan yang “berbau“ TIK cukup banyak melibatkan komunitas ini .
Sejauh ini pengembangan kemampuan kompetensi pendidikan berbasis ICT dibidang masing-masing selalu tertuju pada guru-guru “TIK”, walaupun basis dasar kelompok guru yang tergabung dalam JIS-DIJ justru bukan berlatar belakang ICT, belajar dari pengalaman dan berbagi ilmu dalam kelompok ini ternyata sejalan dengan adanya ide untuk pembentukan dan pengembanagn komunitas yang lebih besar lagi. Artinya, tidak hanya pada guru-guru TIK saja tapi lebih luas lagi!
Klub Guru adalah salah satu kelompok yang sesuai untuk hal tersebut, berdampingan dengan PGRI sebagai mitra, dan indepensi yang kuat maka bentuk klub guru yang ada di jogjakarta adalah partner dalam pengembangan kompetensi guru, baik dengan departemen pendidikan maupun instansi-instansi pemerintah di daerah.













